Menata Hati Selama Ramadhan      


Kamis, 09 Mei 2019 - 08:58:28 WIB - Dibaca: 288 kali

Guru Besar UIN STS Jambi Prof. Dr. Mukhtar Latif
Guru Besar UIN STS Jambi Prof. Dr. Mukhtar Latif [Dokumen Pribadi]

JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati. (HR. Bukhari)

 

Dalam perspektif bulan suci Ramadhan, adalah bulan di mana semua orang memformat kembali sejati dirinya menjadi fitrah. Sistem-sistem yang ada ditata ulang, dari kemungkinan distorsi akibat gangguan virus jin, setan dan iblis, atau virus buatan manusia yang sengaja mengganggu kerja sebuah mesin syaraf dan hati manusia.

 

Sisi-sisi ini memerlukan nilai, norma dan spiritualitas yang dapat mengembalikan manusia baru yang hanif dan fitrah. Dengan fitrah inilah dia mendapat nobel TAKWA, di hadapam Allah, SWT.

 

Setidaknya ada 3 jenis hati yang perlu ditata dengan nilai spiritualitas tertinggi manusia yang dapat menjadikannya fitrah, di bulan Suci Ramadhan.

 

Pertama, hati yang maha kasih (dhamir). Nilai mulya yang maha kasih,  sesungguhnya adalah milik Allah, yang dicurahkan sangat sedikit ke lubuk hati manusia yg paling dalam, yang dikenal dengan "dhamir". Nilai inilah yang menebar pesona kearifan, kebijaksanaan, kedamaian dan saling mengasihi antara sesama makhluk Allah.

 

Tatkala hati manusia yang disentuh oleh maha kasih Allah ini, kemudian dibingkai oleh nilai spiritualitas religiusitas ilahiyah, maka jadilah dia "manusia penuh pesona" dalam kehidupannya, dengan kata lain menjadi manusia canggih di atas segala robot manusia yang dikenal dengan manusia yang "berakhlaqul karimah". Menurut Al Ghazali, tujuan ibadah puasa adalah membingkai akhlaqul karimah. Jadi sangat relevan jika ibadah puasa menjadi area pendidikan strategis dalam membingkai aura hati yang maha kasih.

 

Kedua, hati nurani. Ruang gerak hati nurani selalu berdampingan dengan ruh, dan selalu menebar kebaikan, kebenaran dan keshalehan. Dia selalu menenteramkan dan memberi tenang jiwa dan diri manusia.

 

Ruh tidak mampu ditaklukan oleh dimensi makhluk, dengan cara apapun. Sebab ruh langsung berada pada posisi vertikal berhadapan dengan Allah. Dia bergerak dalam desain dan sistem Allah, dia telah disetting dalam ketentuan dan takdir Allah.

 

Manakala ruh ini dibingkai dengan sentuhan spiritualitas religius, ibadah dan amal shaleh, maka jadikah manusia dalam kehidupanya seperti dimensi malaikat, yang tidak pernah salah, selalu mulya bermartabat dan tidak akan tergerus oleh gemerlap dunia.

 

Ketiga, hati sanubari, yang posisinya berdampingan dengan nafsu manusia. Dia sebagai pengelola dan  kontrol nafsu dan syahwat yang dapat mengangkat derajat kemanusiaan atau sebaliknya menjungkirbalikan kehidupan manusia mejadi "asfalasa filin".

 

Ketika manusia disentuh dengan spiritualItas religius ibadah, amal shaleh dan pengabdian kemaslahatan, maka dia mengangkat fitrah manusia pada posisi, sebaik-baik ciptaan dan sebaik-baik perbuatan, "laqod khalaknal insana fi ahsani taqwim".

 

Ketiga jenis hati ini, sangat strategis jika ditempa melalui binaan puasa dan ibadah di bulan suci Ramadhan. Hal ini dikarenakan Ibadah Ramadhan adalah bersifat komprehensif mencakup segala dimensi ibadah dan memenuhi hampir semua rukun Islam. Maka sangatlah rugi jika Ramadhan karim berlalu, tapi ketiga jenis hati ini tidak mendapat sentuhan nilai spiritualitas.

 

Tiga ranah hati ini menjadi kering tanpa siraman spiritualitas. Tempaan ini, sesungguhnya adalah untuk menata hati agar tetap suci, bersih, sehat, dan memformat kembali dari semua vius kehiduapan, karena 11 bulan lamanya kita bergelimang dengan kemegahan dunia yang bercampur aduk antara dunia halal dan dunia haram. Karena itu hati yang telah diformat akan tertata kembali dan menjadi penentu semua dimensi kehidupan manusia selanjutnya.

 

Tanpa spiritualitas, ibadah, zikir dan amal shaleh, hati tidak akan bersih, hati tidak akan pernah tertata dengan baik dan sehat. Artinya hati manusia didominasi oleh nafsu, dan hati sanubari akan dikalahkan dalam perbuatan nafsu manusia. "inna nafsa la amaratum bissu', nafsu cenderung membawa manusia pada kemungkaran.

 

Fitrah manusia adalah sesuai dengan fitrah Allah yang berpangkal pada fitrah hati manusia, maka tatkala manusia memformat hati di bulan suci ramadhan, artinya dia mengembalikan fitrah kemanusian menjadi fitrah Allah. Fitrah yang maha kasih, fitrah yang maha bijaksana, fitrah yang penuh pesona, fitrah maha adil dan penuh kejujuran, fitrah kesucian lahir dan bathin. Semoga. (MLC, 9 Mei 2019).

Penulis: Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif Guru Besar UIN STS Jambi




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Fesvital Media, Memajukan Masyarakat dan Jurnalis

JERNIH.ID, Jambi - Festival Media (Fesmed) merupakan satu di antara momen mempertemukan jurnalis, media, dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan yang men

BERITA

Relawan Pemuda ProCE Silaturahmi ke Kediaman Abdullah Sani

JERNIH.ID, Kota Jambi - Jelang perhelatan Pilgub yang digelar pada tahun 2020 mendatang, Relawan Pemuda Pro Cek Endra (ProCE) terus gencar melakukan silaturahmi

BERITA

Puncak Hari Jadi Kabupaten Tanjabbarat dan HUT RI, Pemkab Tanjabbarat Hadirkan Artis Ibu Kota

JERNIH.ID, Kuala Tungkal - Puncak Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Tanjabbarat ke 54 dan HUT RI 74 ditutup dengan malam hiburan rakyat yang menampi

BERITA

Ini Rangkaian Acara Hiburan HUT 74 Kab. Tanjab Timur

JERNIH.ID, Tanjung Jabung Timur - Pemerintah Kabupaten Tanjab Timur menggelar Rangkaian Acara Hiburan HUT 74, di Komplek Perkantoran Bukit Mendar

BERITA

Dampak Kabut Asap, Walikota Jambi Liburkan Pelajar

JERNIH.ID, Kota Jambi - Rapat Koordinasi dengan Tim Terpadu terkait antisipasi dan penanganan dampak kabut asap di Kota Jambi, digelar Walikota Jambi Syarief Fa

BERITA

Advertisement