Manajemen Ramadhan


Rabu, 08 Mei 2019 - 09:24:35 WIB - Dibaca: 244 kali

Guru Besar UIN STS Jambi Prof. Dr. Mukhtar Latif.
Guru Besar UIN STS Jambi Prof. Dr. Mukhtar Latif. [Dokumen Pribadi]

JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Setiap tahun umat Islam menyambut datangnya Ramadhan dengan berbagai ekspresi pisik dan mental. Ada yang sangat eforia, sehingga sebulan Ramadhan diwarnai oleh kemegahan, gemerlapan dan hura-hura melampiaskan semua syahwat materi di sepanjang Ramadhan hingga bulan Syawal.

 

Eforia ini diekspresikan mulai dari persiapan makanan, minuman,  pakaian, kue yang berlimpah ruwah, bahkan di penghujung Ramadhan sudah disiapkan rumah baru atau mobil baru untuk menyambut Idul Fitri, walaupun tidak sedikit para keluarga harus menebar hutang, untuk penampilan gengsi (prestise). "Biar ngutang, yang penting senang".

 

Ada pula yang menyikapi di bulan Ramadhan dengan sangat fanatis beragama, marah-marah kalau orang tidak puasa, marah kalau orang tidak shalat tarawih, maki-maki orang tidak ngaji tadarus, sampe mau berantam kalau melihat kemungkaran di depan mata. Padahal dia sendiri tidak melakukan apa yang dia sikapi secara fanatis terhadap orang lain.

 

Ada juga yang menyikapi Ramadhan dengan sangat sederhana, mereka tidak bermewah dengan materi, tidak pula bermegah dengan penampilan, karena sudah biasa puasa Senen dan Kamis, jadi dengan datangnya bulan suci Ramadhan,  mereka hanya menyesuaikan sikap Ibadah dan sikap muamalah di keseharian dalam keluarga dan di masyarakat.

 

Sesungguhnya, semua sikap ini tidak luput dari sikap manajemen Ramadhan. Yakni seni dan proses dalam merencanakan, melaksanakan dan kontrol diri dalam bulan Ramadhan. Setidaknya ada tiga sikap yang patut dikelola atau dimanaje dalam bulan Ramadhan karim. Pertama, manajemen waktu. Kedua, manajemen Ibadah. Ketiga, manajemen pembiayaan keluarga.

 

Pertama, manajemen waktu. Datangnya bulan suci Ramadhan, semestinya tidak mengurangi kinerja, prestasi, beban dan kualitas kerja. Jika seorang pekerja profesional tentu dapat mengelola waktu kerja dengan baik.

 

Rasulullah mengajarkan dalam mengelola waktu ini dengan efektif, di samping sebagai pemimpin tertinggi masyarakat dan negara, dia tetap mengelola dengan menomor satukan waktu untuk bermesra dan bercengkrama bersama istri dan keluarga tercinta, mengelola waktu untuk ibadah, dan mengelola waktu untuk bermuamalah.

 

Selain itu dia juga adalah pendidik yang profesional, juru dakwah yang pakar, entrepreneur yang sukses dan juga sebagai panglima perang yang tangkas. Bahkan beliau sempat melakukan beberapa kali perang dalam bulan suci Ramadhan.

 

Manajemen puncak yang sukses, diraih oleh seorang manajer, dimulai garis startnya dari rumah tangga yang sukses. Makna tertinggi bagi orang yang sudah berumah tangga, adalah keluarga bahagia. Dari sini sukses dibingkai, dari sini masyarakat ditata, dari sini suatu negeri dibangun.

 

"Baiti jannati",  kata rasulullah, rumahku surgaku. Ketika Rasulullah menyatakan ungkapan ini, semua waktu sudah siap dia kelola dengan baik, sehingga apapun yang dilakukan di luar sana telah dimanaje dengan baik dan matang dari rumah tangga, sehingga semua berjalan secara efektif.

 

Tiap bulan Ramadhan tiba, rasulullah mengelola waktunya dengan sangat efektif  sepanjang hari. Sehingga semua waktu yang dikelola di bulan Ramadhan maslahat bagi pribadi, keluarga, umat dan bangsa.

 

Dia sangat disiplin dengan pekerjaan dan sangat peduli dengan keluarga, sehingga semua waktu dimanaje dengan baik, dan tidak pernah menunda pekerjaan, apalagi mengabaikan pekerjaan dan keluarga.

 

Satu ketika, Rasulullah menjumpai 3 orang yang berkumpul di Masjid Nabawi, mereka mengatakan Ya Rasulullah kami menghabiskan waktu dan umur kami hanya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, kami tidak menikah, dan kami terus berpuasa sepanjang hidup kami. Rasulullah bertanya, lantas siapa yang memberi makan kalian kalau sepanjang hari hanya menghabiskan waktu di Masjid, kata mereka kami mendapat sedekah dari masyarakat. Lalu Rasulullah mengatakan, aku menghabiskan waktu hanya mengabdi dan beribadah kepada Allah, tetapi aku sempatkan waktu untuk menikah dan bekerja untuk kelangsungan hidup keluargaku, aku berpuasa sepanjang hari, tapi aku sempatkan waktu untuk berbuka, dan aku beribadah sepanjang malam, tapi aku luangkan waktu untuk tidur setiap malam.

 

Rasulullah sangat berpegang teguh dengan spirit disiplin, demi waktu "wal asri", sehingga tidak ada istilah gagal dalam mengelola perjuangan umat, pengabdian bangsa dan kebahagiaan keluarga.

 

Spirit dan sikap mengelola waktu ini ditulis oleh Ibnul Qayyim, orang yang menunda-nunda dan menyia-nyiakan waktu, adalah mereka yang seperti mengelola harta dari orang-orang yang bangkrut, dan dia akan meraih kerugian dan kerugian.

 

Sayidina Ali juga mengungkapkan, waktu adalah bagai pedang yang terhunus dan setiap saat siap memenggal lehermu, maka jangan disia-siakan, barang sedetikpun di sepanjang kehidupan.

 

Kedua, manajemen Ibadah

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan ampunan, bulan penuh berkah dan rahmat. Andai manusia tahu pastilah menginginkan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. Ratusan ribu Malaikat turun ke bumi setiap hari, membawa berkah dan rahmat untuk makhluk di bumi, utamanya untuk manusia. Dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut. HR. Muslim.

 

Muhamad Rasulullah adalah manusia biasa yang dipilih dan disucikan serta diangkat oleh Allah menjadi Rasul sekaligus kekasihNya "habibillah". Beliau sudah dijamin Allah masuk surga, beserta keluarganya "ahlul bait", termasuk para sahabat dan kerabat terdekat.

 

Meski demikian beliau tetap saja menunaikan ibadah Ramadhan siang dan malam. Pernah satu ketika Rasulullah disindir oleh Umi Aisyah, ya Rasulullah, engkau kan sudah dijamin Allah masuk surga, mengapa kok beribadah masih sangat banyak melebihi kami semua. Kata Rasulullah, wahai Umil mukminin, apakah tidak boleh aku bersyukur dan mendapatkan ridhaNya Allah.

 

Umi Aisyah tidak sanggup mengikuti ibadahnya Rasulullah, sehabis shalat malam di masjid, beliau melakukan shalat lanjutan dan tahajud di rumah, sampai berpuluh-puluh rakaat, sehingga bengkak dan lecet lutut dan kaki Umi Aisyah. Bahkah dinding kamar berjuntai tali, tempat Umi Aisyah bergantung untuk bangkit dari sujud, karena tidak kuat.

 

Sebegitu maksimalnya Rasulullah mengelola ibadah, tentu saja dengan kualitas yang tidak diragukan, karena ibadah yang beliau lakukan adalah contoh "uswah" bagi kita semua. "Shollu kama raaitumuni ushali", shalatlah kamu sebagaimana aku contohkan shalat.

 

Meski Rasulullah shalat sepanjang malam dalam bulan suci Ramadhan,  dan bulan-bulan lain, namun dia tetap mengelola waktu ibadah dan menyisihkan waktu untuk istirahat tidur setiap malam, memberikan ruang kepada tubuh untuk istirahat, agar esok hari tetap bugar bekerja dan menunaikan kewajiban yang lain. Sehingga prestasi kerja tidak ada yang berubah atau melemah, semua berjalan secara berkualitas, seiring ibadah yang dilaksanakan juga secara bekualitas.

 

Ketiga, manajemen pembiayaan keluarga.

Acapkali saat datang bulan suci Ramadhan perilaku hidup orang berubah menjadi konsumeristik individualistik, artinya yang tadinya berhemat menjadi boros, yang tadinya pemurah menjadi kikir atau bakhil, yang tadinya sederhana berubah menjadi glamour.

 

Kehadiran Ramadhan seakan menjadi kesempatan untuk melampiaskan perilaku-perilaku buas yang jauh dari manusiawi. Esensi puasa adalah menahan, selain menahan makan minum dan syahwat juga menahan nafsu amarah, kebohongan,  kelicikan dan berbagai kazaliman.

 

Di dalam kehidupan muamalah, harusnya muncul perilaku sederhana yang tercermin dari cara menyikapi puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan, hingga interaksi dengan sesama, semuanya mesti mecerminkan kesederhanaan hidup, baik secara moril, materil dan onderdil.

 

Di dalam kesederhanaan ditunjukkan sikap kedermawanan dengan ragam keshalehan sosial yang diulurkan buat sesama. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan,  lebih dermawan dari pada angin yang berhembus. HR. Bukhari Muslim.

 

Sederhana dan dermawan adalah satu kutub perilaku yang linear dengan syukur atas nikmat Allah, dan merupakan perilaku akhlakul karimah. Berbeda dengan sikap glamor dan kikir, justru sebagai fenomena kesombongan dan congkak terhadap sesama dan ingkar atas nikmat Allah.

 

Manajemen pembiayaan keluarga di bulan Ramadhan, seyogjanya berada pada jalur sederhana dan dermawan, tidak eforia materialistik dengan kemewahan. Kesederhanaan ditunjukkan dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, bukan gaya hidup yang dipamerkan.

 

Kedermawanan adalah sikap kepedulian dan mau berbagi dengan tanpa harap kembali, tapi karena panggilan hati yang suci dan ikhlas karena Allah.

 

Sikap inilah yang dikenal dengan sedekah, infak dan wakaf, selain adanyanya kewajiban zakat yang mesti ditunaikan. Sedekah dan sejenisnya menyuburkan rezeki dan harta serta memberi berkah atas rezeki dan harta yang dimiliki. Semakin disedekahkan makin bertambah hingga menjadi kelipatan 10-700 kali. Tentu saja, prosesnya diluar logika kita, tapi pasti adanya.

 

Pengelolaan pembiayaan Ramadhan, sejogjanya di manaje dengan kesederhanaan dan kedermawanan itu. Apalagi hikmah puasa mengajarkan, kita makan hanya dua kali, sahur dan berbuka, artinya ada satu kali makan yang kita saving, artinya kita mestinya lebih irit dari sudut pembiayaan.

 

Mengapa saving ini tidak kita sedekahkan kepada sesama yang membutuhkan? Tapi kenyataannya justru dua kali makan yang kita lakukan, justru lebih besar costnya dari tiga kali makan sehari, karena dorongan keserakahan dan nafsu perut yang selalu menggoda tidak pernah merasa puas atas nikmat Allah.

 

Kata Rasulullah, andai manusia diberi dua lembah emas, dia masih meminta lembah yang ketiga. Kecuali mereka yang iman dan takwa kepada Allah, berinfaq di jalan Allah dan menafkah rezekinya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Maka Allah ingatkan kita sampai 31 kali dalam surat Arrahman: "nikmat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan".

 

Kinilah saatnya membuktikan sejatinya kita, dengan mengelola diri di bulan suci Ramadhan, di mana kita lahir secara fitrah dan diproses kembali secara fitrah, dengan harapan kita kembali fitrah. Aamiin. (MLC, 8 Mei 2019).

Penulis: Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif Guru Besar UIN STS Jambi




Komentar Anda



Terkini Lainnya

Fesvital Media, Memajukan Masyarakat dan Jurnalis

JERNIH.ID, Jambi - Festival Media (Fesmed) merupakan satu di antara momen mempertemukan jurnalis, media, dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan yang men

BERITA

Relawan Pemuda ProCE Silaturahmi ke Kediaman Abdullah Sani

JERNIH.ID, Kota Jambi - Jelang perhelatan Pilgub yang digelar pada tahun 2020 mendatang, Relawan Pemuda Pro Cek Endra (ProCE) terus gencar melakukan silaturahmi

BERITA

Puncak Hari Jadi Kabupaten Tanjabbarat dan HUT RI, Pemkab Tanjabbarat Hadirkan Artis Ibu Kota

JERNIH.ID, Kuala Tungkal - Puncak Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Tanjabbarat ke 54 dan HUT RI 74 ditutup dengan malam hiburan rakyat yang menampi

BERITA

Ini Rangkaian Acara Hiburan HUT 74 Kab. Tanjab Timur

JERNIH.ID, Tanjung Jabung Timur - Pemerintah Kabupaten Tanjab Timur menggelar Rangkaian Acara Hiburan HUT 74, di Komplek Perkantoran Bukit Mendar

BERITA

Dampak Kabut Asap, Walikota Jambi Liburkan Pelajar

JERNIH.ID, Kota Jambi - Rapat Koordinasi dengan Tim Terpadu terkait antisipasi dan penanganan dampak kabut asap di Kota Jambi, digelar Walikota Jambi Syarief Fa

BERITA

Advertisement